Kamis, 05 Januari 2017

Cerita Cinta Anak Kuliahan Part 3-4



QAYYUM POV
Setelah selfie bareng teman-temanku di taman kampus, aku melakukan kegiatan lain dengan browsing internet di laptopku di lobi kampus untuk mengisi kekosongan setelah kelasku diliburkan. Selain itu, aku juga menulis sebuah pesan singkat kepada Melody di ponsel pintarku.
Mel, kelasku libur karena dosen sakit. Jam istirahat nanti, kita ketemuan di lobi kampus. Sekarang aku sudah di lobi kampus.
10 menit kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pintarku dan aku membuka pesan masuk itu.
Pengirim: Melody
Aku akan segera ke lobi, Yum.
Tak lama kemudian, datanglah Melody di lobi kampus. Dia memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana panjang jeans berwarna biru tua.
“Hai Qayyum,” sapa Melody ramah.
“Hai Melody,” aku balas menyapa Melody.
“Qayyum, hari ini kamu kelihatan ganteng,” puji Melody.
Thanks, Mel,” balasku sambil tersenyum.
“Kalau dilihat dari dekat, kamu kelihatan semakin cantik,” aku memuji Melody.
Thanks, Yum,” balasnya sambil tersenyum.
“Kamu punya Facebook?” tanyaku.
“Punya. Coba tulis e-mail Facebook aku, melodynur24@gmail.com, di kotak pencarian Facebook,” jawabnya sambil memberi petunjuk kepadaku. Lalu aku mengetik alamat e-mail itu di kotak pencarian Facebook di laptopku. Hasilnya? Aku melihat nama Melody Nurramdhani Laksani dengan foto dirinya yang memakai kemeja putih. Setelah itu, aku meng-klik nama itu dan muncullah halaman Facebook Melody.
“Kamu suka main gitar?” tanyaku sambil melihat foto Melody yang sedang bermain gitar listrik di bagian atas halaman Facebook Melody.
“Iya, Yum. Aku pemain gitar di band kampus. Nama bandku Shiroi Shirt. Shiroi Shirt itu artinya ‘baju putih’ dalam bahasa Jepang,” jawab Melody. Kemudian aku meng-klik tombol add friend di halaman Facebook Melody.
“Rupanya cewek secantik kamu suka main gitar. Aku suka,” aku mengagumi Melody.
“Kamu suka main gitar?” tanya Melody.
“Suka, Mel. Aku juga suka main gitar listrik seperti kamu,” jawabku sambil meng-close program-program yang ada di laptopku dan meng-shut down laptopku. Setelah itu, aku memasukkan laptopku ke dalam tas ranselku.
“Qayyum, habis ini kamu mau ke mana?” tanyanya.
“Habis ini aku shalat Jumat, Mel,” jawabku.
“Qayyum, aku pergi dulu ya,” Melody pamit.
“Melody, jam 2 siang kita ketemuan lagi di sini,” janjiku sebelum Melody pergi.
“Oke,” dia mengangguk setuju dan dia pergi meninggalkanku di lobi kampus.
***
ALIANDO POV
Jam istirahat kuliah, aku dan Tobi, teman kuliahku yang satu jurusan denganku, keluar dari ruang kuliah dan mengobrol di kantin kampus. Nama lengkap Tobi adalah Ricky Cuaca. Dia sering dipanggil Tobi karena dia memiliki kemiripan kelakuan dan fisik dengan salah satu tokoh di sinetron Ganteng Ganteng Serigala, Tobi. Namun dia juga sering dipanggil Cuaca Mendung, Cuaca Hujan, Cuaca Panas, dan Cuaca-Cuaca yang lainnya oleh teman-teman kuliahnya.
“Aliuddin, lo masih naksir sama Melody, anak Ilmu Komunikasi?” tanya Tobi. Dia memanggil aku dengan nama Aliuddin.
“Masih, Cuaca Mendung. Gue aja udah temenan sama Melody sejak SMA,” jawabku.
“Aliuddin, lebih baik lo nggak usah naksir sama Melody lagi,” saran Tobi.
“Kenapa Cuaca Mendung?” tanyaku khawatir.
“Menurut sepengamatan gue, Melody itu adalah gadis idola di kampus ini. Kenapa? Karena dia cantik, jago main gitar, anak band, dan dia disukai banyak cowok di kampus ini. Lebih baik, lo mundur saja untuk naksir sama dia,” jawab Tobi.
“Gue ‘kan termasuk cowok yang menyukai Melody,” balasku.
“Iya, Aliuddin. Lebih baik, lo naksir sama si Dhidi Kempot alias Dhike. Kenapa? Karena selain dia cantik, dia juga jomblo,” saran Tobi lagi sambil menyebut salah satu teman kuliahku.
“Enak aja lo nyebut cewek secantik Dhike kempot,” aku gemas setelah mendengar ucapan dari Tobi.
“Lo mau nggak pacaran sama Dhike? Awas, lo bisa disalip sama cowok lain,” saran Tobi lagi.
“Gue nggak mau, Cuaca Mendung. Gue cuma mau Melody jadi pacar gue. Titik,” balasku tegas. Kemudian aku pergi meninggalkan Tobi di kantin dengan menyisakan semangkuk bakso kuah yang aku makan dan juga segelas es teh manis yang aku minum sampai setengah gelas. Aku muak mendengar kata-kata dari Tobi yang membuatku gemas.
***
MELODY POV
Selepas kuliah, aku pergi ke lobi kampus untuk janjian dengan Qayyum.
“Qayyum,” sapaku.
“Melody,” dia balas menyapaku.
“Melody, kamu mau nggak makan di kafe sama aku?” ajak Qayyum.
“Mau, Yum,” aku menerima ajakan dari Qayyum.
“Kamu bawa mobil?” tanyanya.
“Iya, Yum. Kamu?” jawabku kemudian bertanya.
“Aku juga bawa mobil. Gini, nanti aku jalanin mobil aku dulu, terus kamu bawa mobil kamu dan kamu ikutin mobil aku sampai di kafe,” Qayyum memberi petunjuk kepadaku.
“Oke,” balasku singkat.
Selepas kuliah, aku dan Qayyum pergi makan di kafe. Di kafe, aku dan Qayyum sama-sama menyantap nasi goreng seafood pedas dan minum lemon juice.
“Kamu suka makan seafood?” tanyaku.
“Suka, Mel. Aku suka makan udang dan cumi,” jawab Qayyum.
“Emangnya kamu nggak alergi makan yang begituan?”
“Nggak, Mel.”
“Kamu sudah punya pacar belum?”
“Belum. Kamu?” jawabnya kemudian bertanya kepadaku.
“Aku juga belum,” jawabku sambil tertawa kecil.
Setelah semuanya selesai, aku dan Qayyum pergi meninggalkan kafe. Sore ini cuacanya agak mendung dan kemungkinan besar sore ini akan turun hujan.
“Terima kasih Qayyum, sudah ngajak aku makan di sini,” aku berterima kasih kepada Qayyum.
“Sama-sama, Mel,” balasnya singkat.
“Qayyum, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu lagi,” aku pamit.
“Ya, Mel,” balasnya sambil melambaikan tangan kanannya kepadaku.
***
Hari ini adalah hari yang terindah bagiku. Pada jam istirahat kuliah, aku bertemu dengan seorang sahabat baru yang bernama Qayyum di lobi kampus. Selepas kuliah, aku kembali bertemu dengan Qayyum di lobi kampus dan dia mengajakku makan di kafe. Malam ini, aku akan tidur dengan nyenyak dan mimpi yang indah. Selamat malam.
***
QAYYUM POV
Hari ini hari Sabtu. Hari ini aku tidak kuliah. Pagi ini, aku sarapan bersama kedua orangtuaku di ruang makan.
“Qayyum, Mama ingin kamu punya pacar yang cantik, baik, dan pintar,” saran Mama kepadaku sambil mengoles selai strawberry di atas rotinya.
“Iya, Ma. Aku pasti punya pacar yang cantik, baik, dan pintar,” aku mengikuti saran dari Mama.
“Kalau kamu punya pacar yang cantik, baik, dan pintar, masa depan kamu akan cerah,” jelas Mama.
“Papa setuju dengan rencana Mama untuk masa depan anak kita satu-satunya,” Papa mendukung rencana Mama untukku.
“Iya, Pa. Mama pasti akan mencari wanita terbaik untuk anak kita satu-satunya,” kata Mama dengan penuh harapan. Siapa wanita terbaik untukku yang akan dicari Mama adalah seorang wanita yang aku harapkan? Apakah itu Melody seperti yang aku harapkan? Atau wanita lain? Aku tidak sabar siapa wanita terbaik untukku yang dicari Mama.
***
Hari Senin aku pergi ke kampus pada jam 7 pagi padahal kelasku sendiri mulainya jam 10 pagi. Tapi tidak apa-apa. Dengan mengendarai mobilku berwarna hitam, aku tampak enjoy dengan mendengarkan radio yang saat ini menyiarkan program morning show.
Setelah memarkir mobilku di parkir kampus dan keluar dari mobil, aku melihat seorang gadis yang sepertinya aku kenal. Benar. Gadis yang aku lihat sekarang adalah Melody.
“Hai Qayyum,” sapa Melody.
“Hai Melody,” aku balas menyapa Melody dengan ramah.
“Qayyum, kenapa kamu datang ke sini pagi-pagi?” tanya Melody.
“Aku datang pagi-pagi mau ketemu kamu. Kamu masuk kelasnya jam setengah 9 pagi, kalau aku masuk kelas jam 10 pagi,” jawabku.
“Oh gitu. Kamu mau nggak sarapan bareng aku?” ajak Melody.
“Kamu belum sarapan?” aku bertanya balik kepada Melody.
“Aku belum sarapan, Yum. Aku bangunnya jam 6 pagi. Qayyum, temanin aku sarapan,” jawab Melody dengan wajah yang pucat seperti baru bangun tidur.
“Iya, Mel,” aku menerima ajakan dari Melody.
Di kantin kampus, aku dan Melody sama-sama sarapan dengan semangkuk bubur ayam. Lengkap dengan kerupuk pangsit, bawang goreng, dan cakwe.
“Enak nggak buburnya?” tanyaku.
“Enak, Yum,” jawab Melody sambil tersenyum kecil.
***
AFGAN POV
Hari ini hari Senin. Waktunya kembali kuliah di kampus. Aku tidak sabar ingin kembali ke rutinitasku seperti biasa dan ingin bertemu dengan teman-teman kuliahku. Pagi ini, aku memasuki ruang kuliah.
Good morning,” aku menyapa teman-teman kuliahku yang sudah berada di ruang kuliah terlebih dahulu dengan ramah.
“Gak usah sok akrab, Gan,” Vidi merespon sinis setelah disapa aku.
“Emangnya kenapa?” tanyaku baik-baik.
“Kamu nggak boleh akrab-akraban sama teman-teman kuliah kamu atau sama siapapun, apalagi saya,” jawab Vidi sinis.
“Hai,” sapa Melody yang baru saja masuk ke ruang kuliah.
“Hai Melody,” aku balas menyapa Melody dengan ramah. Lalu Vidi menarik lenganku.
“Hei, sudah dibilangin berkali-kali, kamu nggak boleh dekat-dekat sama Melody,” Vidi kembali berkata sinis kepadaku.
“Vidi, kamu nggak boleh gitu sama Afgan,” Melody memperingatkan Vidi.
“Melody, kamu nggak boleh lagi berhubungan sama cowok seperti Afgan. Afgan itu cowok apaan?” Vidi berkata sinis kepada Melody sambil merendahkan aku. 
***
ALIANDO POV
Senin pagi ini aku pergi ke rumah Tobi untuk menjemput Tobi ke kampus dengan motor Vespa yang aku kendarai.
“Tobi, kamu sudah siap belum?” tanyaku sambil menunggu Tobi di depan rumah Tobi.
“Udah, Aliuddin. Ayo kita berangkat sekarang,” jawab Tobi yang sudah keluar dari rumahnya.
“Helmnya jangan lupa dipakai,” pesanku kepada Tobi. Lalu Tobi memakai helmnya. Kemudian aku menjalankan mesin Vespa-ku dan berjalan meninggalkan depan rumah Tobi.
Setibanya di kampus, aku melihat sebuah poster event di majalah dinding (mading) kampus.
“Aliuddin, tanggal 10 nanti, Raisa manggung di kampus kita,” kata Tobi sambil menunjukkan poster event yang dipajang di mading kampus. Isi poster event tersebut adalah sebuah event kampus berupa konser yang dimeriahkan oleh penyanyi solo ternama, Raisa, pada 10 Oktober 2015 di Gedung Fakultas Ekonomi Universitas JKT48.
“Tobi, nanti kita nonton Raisa, ya,” janjiku.
“Kalau Raisa, gue pasti nonton dong,” Tobi menerima janji dariku.
***
MELODY POV
Pada jam istirahat kuliah, aku bertemu dengan Qayyum di taman kampus.
“Qayyum,” sapaku ramah.
“Melody,” Qayyum balas menyapaku.
“Qayyum, kamu mau nggak ikut latihan band sama aku,” ajakku.
“Mau, Mel,” Qayyum menerima ajakan dariku.
“Kamu selesai kuliah jam berapa?” tanyaku.
“Jam 3 sore, Mel,” jawabnya.
“Habis kuliah, kamu langsung ke ruang band ya,” pesanku kepada Qayyum.
“Iya, Mel.”
“Kamu kapan latihan band?” tanya Qayyum.
“Aku latihan bandnya setiap Senin dan Kamis,” jawabku.
***
VIDI POV
Pada jam istirahat kuliah, aku bersama rekan satu band kampus melakukan pertemuan tertutup di ruang meeting. Aku punya band kampus yang bernama RIVER. Nama RIVER diambil dari salah satu lagu dari AKB48 dan JKT48. Tugasku di band RIVER adalah seorang vokalis. Personel band lainnya ada Brandon (gitaris/mahasiswa Akuntansi), Randy (bassis/Teknik Elektro), Petra (keyboardis/Ilmu Komputer), dan Emmanuel (drummer/Sastra Inggris).
“Kita sudah siap untuk melakukan pemanasan menjelang konser Raisa di Gedung Fakultas Ekonomi pada hari Sabtu nanti?” tanyaku sambil mempersiapkan konser penyanyi ternama Raisa di Gedung Fakultas Ekonomi Universitas JKT48 pada hari Sabtu mendatang. Band RIVER akan tampil sebagai pengisi acara di konser tersebut.
“Siap, Vid,” jawab Randy sang bassis dengan penuh semangat.
“Jadi kapan kita mulai latihan?” tanyaku.
“Hari ini jam 3 sore setelah kuliah,” jawab Emmanuel sang drummer.
“Terus, Brandon, Randy, dan Petra kapan selesai kuliah?” tanyaku.
“Aku selesai kuliah jam 2,” jawab Brandon sang gitaris.
“Jam 3,” jawab Randy.
“Jam setengah 3,” jawab Petra sang keyboardis.
“Oke, latihan band hari ini akan dimulai jam 3 sore,” aku menetapkan jadwal latihan band RIVER untuk hari ini.
Pada jam 3 sore, aku bersama rekan satu band berkumpul di depan ruang band. Kita berlima sudah siap untuk latihan band dan memasuki ruang band. Yang mengejutkan, ada enam anak muda yang sudah memasuki ruang band. Mereka adalah empat orang laki-laki dan dua orang perempuan.
“Buat apa kalian datang ke sini? Hari ini giliran band aku yang latihan,” tanya Afgan. Aku juga mengenal Afgan sebagai vokalis band Shiroi Shirt.
“Afgan, kamu nggak boleh latihan band hari ini. Dari hari Senin sampai Jumat, hanya band saya yang akan latihan di ruangan ini. Hari Sabtu nanti, band saya, RIVER, akan mengisi acara di konser Raisa di Gedung Fakultas Ekonomi. Band kamu nggak boleh nonton konser Raisa kecuali anggota perempuan,” kataku sambil merendahkan Afgan.
“Kamu ngelarang aku untuk menonton konser Raisa?” tanya Afgan emosi.
“Iya. Kalau di kampus ini ada penyanyi ternama yang manggung seperti Raisa, kamu nggak boleh nonton sama sekali,” aku tetap melarang Afgan untuk menonton konser Raisa.
“Yang tidak ada hubungannya dengan band RIVER, silahkan keluar,” aku mengusir orang-orang yang tidak berhubungan dengan band RIVER. Kemudian empat orang laki-laki dan dua orang perempuan keluar meninggalkan ruang band. Setelah itu, band RIVER menguasai ruang band. Aku sudah siap untuk bernyanyi, Brandon sudah siap memainkan gitarnya, Randy juga sudah siap dengan bassnya, Petra yang sudah duduk manis di depan piano, dan Emmanuel yang sudah siap di belakang ruang band dengan menabuh drum. Latihan band hari ini dimulai!
JKT~!
48!

Majulah kedepan! (Got it!)
Janganlah berhenti! (Got it!)
Tujuan tempat matahari terbit
Ayo langkah di jalan harapan!

Penghalang adalah River! River! River!
Dan yang membentang River!
Takdirnya River! River! River!
Akan diuji River!

Buanglah keraguanmu!
Tunjukan nyalimu!
Jangan ragu!
Sekarang juga
Satu langkah maju! Believe yourself!

Ayo maju!
Majulah kedepan!
Seberangi sungai! Ho! Ho! Ho! Ho!

Mimpi itu selalu terlihatnya jauh
Dan jaraknya terasa tidak tercapai
Batu di bawah kaki, ayo ambillah satu
Jadilah nekad dan coba lemparkan!

Tepat di depan matamu
Ada sungai mengalir
Luas, sebuah sungai yang besar
Walaupun gelap dan dalam
Walaupun arusnya deras
Tidak perlu ketakutan
Walaupun kau terpisah
Ya, tepian pasti ada
Lebih percayalah pada dirimu

Di tengah kegelapan
Ayo terus berenang!
Janganlah berbalik! Ho! Ho! Ho! Ho!

Bila merentangkan tangan
Disana masa depan
Jangan menyerah untuk yang tidak tercapai
Batu yang telah dilemparkan
Mengabulkan impian
Suara jatuhnya pun tak 'kan terdengar

Di dalam hatimu juga
Ada sungai mengalir
Cobaan, sungai deras yg pedih
Walau tak berjalan baik
Walau terkadang tenggelam
Tak apa mengulang lagi
Dan janganlah menyerah
Disana pasti ada tepian
Suatu saat kau pasti akan sampai

Get over it!
River!

AH-AH-AH-AH-AH
Jangan alasan untuk diri sendiri!
AH-AH-AH-AH-AH
Jika tak dicoba tak akan tahu!
AH-AH-AH-AH-AH
Tiada jalan selain maju!
Selalu
Selalu
Selalu
Teruslah melangkah di jalan yang kau pilih!

Tepat di depan matamu
Ada sungai mengalir
Luas, sebuah sungai yang besar
Walaupun gelap dan dalam
Walaupun arusnya deras
Tidak perlu ketakutan
Walaupun kau terpisah
Ya, tepian pasti ada
Lebih percayalah pada dirimu

Di dalam hatimu juga
Ada sungai mengalir
Sungai keringat dan air mata
Walaupun kau pernah gagal
Walaupun dirimu terbawa arus
Tak apa terulang lagi
Dan janganlah mengeluh
Genggamlah selalu impianmu
Sampai suatu saat mimpimu terkabul

Ayo seberangilah!
You can do it!

(RIVER – JKT48)
***
QAYYUM POV
Aku bersama Melody dan anggota band Shiroi Shirt yang lainnya, pergi meninggalkan ruang band dengan terpaksa. Seharusnya hari ini band Shiroi Shirt latihan dan aku bisa latihan band bersama anak-anak Shiroi Shirt. Namun karena ruang band dibajak oleh grup band lain, mau tidak mau, latihan band Shiroi Shirt untuk hari ini terpaksa dibatalkan.
“Qayyum, sebelum pulang, kita kenalan sama anak-anak Shiroi Shirt dulu,” Melody mengajakku berkenalan dengan anggota band Shiroi Shirt.
“Namaku Qayyum.”
“Aku Afgan, vokalis.”
“Ve, vokalis.”
“Fabian, bassis.”
“Erwin, drummer.”
“Aku boleh gabung di band Shiroi Shirt nggak? Soalnya aku bisa nyanyi dan main gitar,” tanyaku.
“Bisa, tapi kamu harus latihan sama band aku. Kalau hasilnya memuaskan, kamu bisa menjadi anggota tetap band Shiroi Shirt,” saran Afgan.
“Terima kasih, Afgan,” aku berterima kasih kepada Afgan.
“Melody, Afgan, Ve, Fabian, Erwin, aku pulang dulu ya,” aku berpamitan kepada anggota band Shiroi Shirt.
“Sampai ketemu lagi,” kata Afgan.
***
Di saat perjalanan menuju pulang, ponsel pintarku berdering. Tak lama setelah itu, aku meraih ponsel pintarku dan aku mengangkat telepon itu. Tertulis caller ID Mama. “Halo.”
“Qayyum, kamu lagi di mana sekarang?” tanya Mama dari seberang sana.
“Aku lagi di jalan pulang ke rumah. Ada apa, Ma?” jawabku kemudian bertanya.
“Nanti malam, Mama ajak kamu makan malam di kafe,” jawab Mama.
“Iya, Ma,” aku menerima ajakan dari Mama. Kemudian aku mematikan telepon itu.
Pada malam hari, aku bersama Mama pergi makan malam di kafe. Malam ini aku dan Mama sama-sama menyantap masing-masing seporsi lasagna dan minum jus mangga.
“Dalam waktu dekat ini, Mama akan cari calon pacar kamu,” kata Mama.
“Calon pacar? Untuk apa?” tanyaku tak percaya.
“Ya, untuk kamu, lah. Sekarang kamu sudah 19 tahun dan tahun depan kamu sudah 20 tahun. Mama nggak mau kalau kamu menjomblo terus-terusan,” jawab Mama.
“Aku ngerti, Ma. Aku punya teman cewek. Namanya Melody. Dia mahasiswi Universitas JKT48 jurusan Ilmu Komunikasi. Dia itu orangnya cantik, baik, pintar, dan sekarang dia masih single,” saranku.
“Kamu yakin Melody adalah wanita terbaik untukmu?” tanya Mama.
“Aku yakin, Ma. Dia itu hanya wanita biasa yang rendah hati. Mama tidak perlu lagi meragukan dia karena dia adalah wanita terbaik bagiku,” jawabku.
“Kalau bisa, kamu ajak Melody ke rumah kita,” saran Mama.
“Iya, Ma.”

Bersambung

Selasa, 03 Januari 2017

Cerita Cinta Anak Kuliahan Part 1-2


Genre: Romantic, Drama
 

MELODY POV
Hari ini aku pergi ke kampus seperti biasa. Perkenalkan. Namaku Melody Nurramdhani Laksani. Aku mahasiswi Universitas JKT48 jurusan Ilmu Komunikasi. Orang-orang biasa memanggilku Melody atau Teh Imel. Cantik, baik, dan pintar. Disukai banyak laki-laki di kampusku dan menjadi gadis idola di kampusku. Pagi ini, aku memasuki ruang kuliah di gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
“Hai,” aku menyapa teman-teman kuliahku yang sudah berada di ruang kuliah.
“Hai Melody,” sapa Afgan, teman kuliahku yang sudah duduk manis di bangkunya.
“Hai juga Afgan,” aku balas menyapa Afgan dengan ramah. Afgan itu adalah cowok yang baik, ganteng, perhatian, ramah sama perempuan, dan dia menjadi cowok idola di kampus ini. Selain itu, dia juga disukai banyak perempuan di kampus ini, termasuk aku.
“Heh, kamu jangan sok ramah sama Melody,” Vidi, teman kuliahku, berkata kepada Afgan dengan sinis sambil duduk di bangkunya. Vidi dikenal sebagai cowok yang paling songong di kampus ini. Dia sering menyebut dirinya sebagai cowok paling ganteng di kampus dan tidak ada cowok lain yang lebih ganteng daripada dirinya. Selain itu, dia juga sering merendahkan teman sekampusnya sendiri. Oh ya, Vidi lahir sebagai keluarga kaya raya karena ayahnya adalah seorang pengusaha terkenal di bidang elektronik.
“Emangnya nggak boleh aku dekat-dekat sama Melody? Melody itu teman aku dan aku bebas mau ngapain saja sama Melody,” balas Afgan.
“Cowok seperti kamu, gak pantas jadi temannya Melody,” tegas Vidi sambil menatap Afgan sinis.
“Sudah. Sudah. Kalian jangan berantem terus,” aku berusaha menenangkan Afgan dan Vidi. Sejak semester satu, hubungan Afgan dengan Vidi tidak pernah akur, terutama soal memperebutkan aku untuk menjadi pacarku. Sejak saat itu, mereka berdua sama-sama ingin menjadi pacarku.
“Hai,” seorang gadis datang menyapaku dari belakang di ruang kuliah. Kemudian aku menengok ke arah belakang. “Beby.”
“Hai Melody, Afgan, Vidi,” sapanya ramah. Gadis itu bernama Beby. Dia teman kuliahku juga. Dia gadis yang cantik, baik, dan memiliki lesung di kedua pipinya, bahkan senyumnya menyerupai Afgan yang juga memiliki lesung di kedua pipinya. Selain itu, dia juga menyukai Afgan karena ketampanannya.
“Nggak usah sok akrab,”  Vidi merespon sinis setelah disapa Beby.
***
QAYYUM POV
Pagi ini aku pergi ke kampus seperti biasa. Perkenalkan. Namaku Abdul Qayyum Ahmad. Aku mahasiswa Universitas JKT48 jurusan Sastra Indonesia. Aku memilih jurusan Sastra Indonesia karena aku suka menulis cerpen dan novel. Orang-orang biasa memanggilku Qayyum. Tampan, baik, ramah, dan cool. Disukai banyak perempuan di kampusku dan menjadi cowok idola di kampusku.
“Hai Qayyum,” sapa Naomi, teman kuliahku, yang sudah berada di ruang kuliah lebih dulu.
“Hai Naomi,” aku balas menyapa Naomi dengan ramah.
“Nom, tugas kuliah yang dikasih dosen kemarin sudah dikerjain belum?” tanyaku.
“Sudah, Yum. Kamu?” jawab Naomi kemudian bertanya.
“Aku udah ngerjain tugas, Nom,” jawabku.
Pada jam istirahat kuliah, aku pergi ke taman kampus. Di saat aku berjalan di taman kampus, aku menabrak seorang gadis yang sedang membawa buku-buku kuliahnya.
“Maaf,” kataku sambil membantu gadis itu dengan menyusun buku-buku kuliah miliknya yang terjatuh di atas aspal taman yang digunakan untuk jalan kaki. Lalu, aku menyerahkan buku-buku itu kepada gadis itu. “Ini.”
“Terima kasih. Nama kamu siapa?” gadis itu berterima kasih kepadaku sambil bertanya kepadaku.
“Namaku Qayyum. Aku mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Angkatan 2014,” jawabku sambil mengulurkan tanganku kepada gadis itu.
“Aku Melody. Aku mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2014,” kata gadis itu sambil menyambut uluran tanganku.
“Melody, kamu bisa ngobrol sekarang nggak?” ajakku.
“Bisa,” dia mengganguk setuju. Kemudian aku dan Melody duduk di salah satu kursi panjang yang terdapat di taman kampus.
“Melody, hari ini kamu ada kelas lagi nggak?” tanyaku saat memulai pembicaraan dengan Melody.
“Ada, Yum. Jam setengah satu, aku masih ada kuliah lagi,” jawab Melody.
“Aku mau minta nomor HP kamu,” aku meminta nomor HP-nya Melody sambil memegang ponsel pintarku.
“Mana HP kamu?” tanya Melody lembut.
“Ini, Mel,” jawabku sambil menyerahkan ponsel pintarku kepada Melody. Lalu dia menulis nomor HP-nya di ponsel pintarku dan dia menyimpannya.
“Ini nomor HP aku,” kata Melody sambil menyerahkan ponsel pintarku kepadaku. Lalu aku melihat nomor HP-nya Melody di ponsel pintarku.
Thanks, Mel,” aku berterima kasih kepada Melody.
“Sama-sama,” balas Melody sambil tersenyum simpul.
“Melody, aku pergi dulu ya,” aku pamit.
“Sampai ketemu lagi,” pesan Melody sambil melambaikan tangan kanannya.
***
ALIANDO POV
“Hai Ali,” Ve, teman kuliahku, datang menyapaku di saat aku sedang browsing internet di laptopku di lobi kampus. Perkenalkan. Namaku Aliando Syarief. Aku mahasiswa Universitas JKT48 jurusan Desain Komunikasi Visual. Orang-orang biasa memanggilku Aliando atau Ali. Tampan, baik, enerjik, dan cool. Hobiku adalah bermain sepak bola dan aku suka dengan klub sepak bola Spanyol, FC Barcelona. Oh ya, aku juga masuk klub sepak bola Universitas JKT48 dan posisiku adalah penyerang.
“Hai Ve,” aku balas menyapa Ve.
“Ali, kamu kapan main bola lagi di tim universitas?” tanya Ve. Dia tahu kalau aku adalah anggota klub sepak bola universitas.
“Besok, Ve. Lawannya Universitas Pratama. Habis kuliah, aku ada latihan bola untuk pertandingan besok,” jawabku sambil menyebut kegiatan selanjutnya setelah kuliah.
“Semoga kamu mencetak gol lagi,” pesan Ve.
“Oke, Ve,” balasku singkat.
Selepas kuliah, aku langsung pergi ke lapangan sepak bola komplek olahraga Universitas JKT48 untuk persiapan menghadapi pertandingan persahabatan melawan Universitas Pratama yang digelar pada esok hari di tempat aku berlatih sekarang.
“Ali, kamu sudah siap untuk pertandingan besok melawan Universitas Pratama?” tanya Qayyum, kapten tim universitas yang bermain di posisi gelandang serang.
“Siap, Yum. Aku akan mencetak gol demi kebanggaan Universitas JKT48,” jawabku dengan penuh semangat.
“Oke, Ali,” balas Qayyum dengan penuh semangat juga.
***
AFGAN POV
Kuliah selesai pada jam setengah tiga sore. Aku pun melangkah keluar dari ruang kuliah. Tak lama setelah keluar dari ruang kuliah, Beby, datang menghampiriku yang juga keluar dari ruang kuliah.
“Gan, habis ini kamu mau nggak makan bareng di kafe?” ajak Beby.
“Mau, Beb. Habis ini aku juga mau pergi ke kafe. Buat refreshing. Mau bareng?” aku menerima ajakan dari Beby sambil mengajak balik kepada Beby.
“Mau, Gan,” Beby menerima ajakan dariku.
“Oke. Nanti kamu naik mobil aku.” Setelah kuliah, aku pergi ke kafe bersama Beby dengan mengendarai mobilku di mana Beby duduk di depan mobil sebelahku.
Di kafe, aku menyantap seporsi lasagna dan minum ice white coffee. Sementara Beby menyantap seporsi spaghetti carbonara dan minum jus jeruk.
“Gan, asyik juga makan bareng kamu di kafe sekaligus untuk menghilangkan stres selama di kampus,” cerita Beby.
“Iya, Beb. Kamu stres kenapa di kampus?” tanyaku.
“Aku stres karena kelakuan Vidi yang songong,” jawab Beby.
“Vidi ‘kan orangnya emang gitu. Jadi, nggak usah dikomentarin lagi,” balasku.
***
MELODY POV
Setelah kuliah, aku langsung pulang ke rumah dengan mengendarai mobilku yang berwarna putih. Tiba di rumah pada jam empat sore. Setelah itu, aku memarkir mobilku di garasi rumah dan aku masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum,” aku mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikum salam,” Frieska, adikku yang kini duduk di bangku kelas XII SMA, menjawab salam dariku.
Pada malam hari, aku bercerita kepada Frieska tentang kejadian di kampus hari ini.
“Fris, pas jam istirahat kuliah, aku keluar dari gedung kampus sambil bawa buku-buku kuliahku. Terus, buku-buku kuliahku jatuh karena ditabrak seorang cowok dan cowok itu bantuin nyusun buku-buku kuliahku yang terjatuh di taman kampus. Pokoknya, cowok itu baik banget karena dia bantuin nyusun buku-buku kuliahku dengan sepenuh hati,” ceritaku.
“Siapa cowok itu?” tanya Frieska penasaran seperti ingin menarik perhatian.
“Qayyum. Dia anak Sastra Indonesia Angkatan 2014,” jawabku.
“Dia ganteng nggak?”
“Ya ganteng lah,” jawabku tegas.
Esok pagi, aku pergi ke kampus seperti biasa dengan mengendarai mobil berwarna putih. Setibanya di parkir kampus dan keluar dari mobilku, aku melihat seorang cowok yang pernah aku lihat kemarin.

“Melody,” sapa cowok itu.

“Qayyum,” aku balas menyapa cowok itu. Ternyata, cowok yang aku lihat sekarang adalah Qayyum, cowok yang baru aku kenal kemarin. Tak lama kemudian, Vidi yang baru saja memarkir mobilnya di parkir kampus, datang menghampiri kita berdua.

“Siapa cowok itu?” tanya Vidi sambil menatapku tajam.

“Qayyum, dia mahasiswa jurusan Sastra Indonesia,” jawabku.

“Buat apa kamu dekat-dekat sama anak Sastra? Gak level,” Vidi berkata kepadaku dengan sinis dan dia pergi meninggalkanku.

“Qayyum, aku duluan ya,” aku pamit.

“Iya, Mel,” balas Qayyum singkat.

Di lobi kampus, aku bertemu dengan Aliando, mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Aku sudah cukup lama mengenal Aliando karena dia satu SMA denganku. Aku pernah sekelas dengannya di kelas X-2, kelas XI-IPA-1, dan kelas XII-IPA-1.

“Hai Melody,” sapa Aliando ramah.

“Hai Ali,” aku balas menyapa Aliando dengan ramah.

“Mel, jam satu siang nanti, aku ada pertandingan sepak bola untuk tim universitas. Lawan kami adalah tim Universitas Pratama,” Aliando memberitahu kepadaku kalau dia ada pertandingan sepak bola untuk tim universitas.

“Aku tahu kalau hari ini kamu ada pertandingan sepak bola untuk tim universitas,” balasku.

“Melody, aku mau ke kelas dulu ya,” Aliando pamit.

“Semoga kamu cetak gol, ya,” pesanku kepada Aliando.

“Iya, Mel,” balasnya sambil tersenyum. Kemudian Aliando pergi meninggalkanku lobi kampus.

***

QAYYUM POV

Pada jam istirahat kuliah, aku menelpon Melody di lobi kampus.

“Hai Qayyum,” terdengar suara dari seberang sana.

“Hai Melody,” aku balas menyapa Melody.

“Qayyum, kamu lagi di mana?” tanya Melody.

“Aku lagi di lobi kampus. Kamu?” jawabku kemudian bertanya.

“Aku di taman, Yum,” jawab Melody.

“Oh ya, hari ini aku ada pertandingan sepak bola bersama tim universitas melawan Universitas Pratama pada pertandingan persahabatan jam satu siang nanti,” aku memberitahu kepada Melody karena hari ini aku ada pertandingan sepak bola bersama tim universitas.

“Kamu anggota tim sepak bola universitas juga?” tanyanya tak percaya.

“Iya, Mel. Aku menjabat sebagai kapten tim universitas dan aku berposisi sebagai gelandang serang,” jawabku.

Good luck, Yum,” pesan Melody.

“Oke, Mel.” Kemudian aku mematikan telepon.

Jam satu siang, pertandingan persahabatan antara Universitas JKT48 melawan Universitas Pratama akan segera dimulai. Tim Universitas JKT48 memakai seragam kaus putih, celana hitam, dan kaus kaki putih, sedangkan tim Universitas Pratama memakai seragam kaus biru, celana biru, dan kaus kaki biru. Pada pertandingan ini, aku mendapat tugas sebagai kapten tim Universitas JKT48.

“Priiiitttttt!!!” begitu wasit meniupkan peluitnya sebagai tanda pertandingan dimulai.

Babak pertama, kedua tim sama-sama bermain menyerang. Tembakan demi tembakan yang diciptakan kedua tim belum membuahkan gol. Pada pertengahan babak pertama, tim Universitas JKT48 berhasil mencetak gol lewat sepakan Aliando, berposisi sebagai penyerang dan mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Skor 1-0 untuk Universitas JKT48. Pada akhir babak pertama, tim Universitas JKT48 mendapat penalti karena salah satu pemain Universitas JKT48 dilanggar oleh pemain lawan di kotak terlarang. Untuk menambah keunggulan, aku bertugas untuk mengeksekusi tendangan penalti. Dan, tendangan penalti tersebut membuahkan gol sehingga skor berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan tim Universitas JKT48. Skor itu bertahan sampai jeda pertandingan.

Babak kedua, pertandingan berjalan lebih sengit dan keras. Banyak pelanggaran terjadi di babak kedua dan kedua tim tetap bermain menyerang. Tidak ada gol yang tercipta di babak kedua dan tidak ada kartu merah yang keluar dari saku wasit. Skor 2-0 untuk Universitas JKT48 bertahan sampai akhir pertandingan.

***

AFGAN POV

Selepas kuliah, aku ada latihan band kampus. Begitu pula Melody. Aku dan Melody merupakan anggota band kampus yang bernama Shiroi Shirt. Nama band ini diambil dari salah satu lagu AKB48 (dan JKT48), Shiroi Shirt. Arti dari nama band ini adalah “baju putih” dalam bahasa Jepang. Di band ini, aku bertugas sebagai vokalis bersama Ve, mahasiswi Desain Komunikasi Visual. Sedangkan Melody bertugas sebagai gitaris dan backing vocal. Personel band lainnya ada Fabian (bassis, backing vocal/mahasiswa Hubungan Masyarakat) dan Erwin (drummer, backing vocal/Ekonomi Manajemen).

“Afgan, Melody,” sapa Ve ketika aku dan Melody tiba di ruang band. Sementara itu, Fabian dan Erwin juga sudah berkumpul di ruang band. Fabian sudah siap dengan bassnya. Sedangkan Erwin juga sudah siap untuk menabuh drumnya.

“Latihan hari ini dimulai!” kataku sambil memulai latihan band hari ini.
Pakai baju putih!
Perasaan baru
Kesedihan dan kesulitan
Ayo kita cuci!
Bekas air mata juga kan segera hilang
Pasti ada hari yang cerah
Ada kamu yang menyilaukan

Bila berjalan di jalan yang panjang
Ada kalanya mobil cipratkan lumpur
Kotoran burung, tiba-tiba jatuh
Ada kalanya juga menumpahkan jus

Tidak bisa terus bersedih
Pakaian yang kotor
Daripada menangisi kesialan
Ayo, tertawa!

Kar'nanya
Pakai baju putih!
Dengan bau mentari...
Terlahir lagi saat itu
Dirimu yang baru
Kegagalan itu, tiada yang peduli
Karena pasti hal yang menyenangkan
Esok pasti akan menunggu

Baju yang dirimu kenakan sekarang
Walaupun sudah usang, robek di sana-sini
Hal yang paling penting adalah
Perasaan selalu putih dan suci

Menangis itu juga hal perlu
Robek pun tidak apa
Tanpa rasa takut terkotori
Jalanilah hidup!

Ya, betul!
Pakai baju putih!
Perasaan baru
Kesedihan dan kesulitan
Ayo kita cuci!
Bekas air mata juga kan segera hilang
Pasti ada hari yang cerah
Ada kamu yang menyilaukan

Kar'nanya
Pakai baju putih!
Dengan bau mentari...
Terlahir lagi saat itu
Dirimu yang baru
Kegagalan itu, tiada yang peduli
Karena pasti hal yang menyenangkan
Esok pasti akan menunggu

Pakai baju putih!
Perasaan baru
Kesedihan dan kesulitan
Ayo kita cuci!
Bekas air mata juga kan segera hilang
Pasti ada hari yang cerah
Ada kamu yang menyilaukan

LaLaLaLaLa~

Shiroi Shirt – JKT48

***

MELODY POV

Pada malam hari, di saat aku sedang menonton televisi di rumah bersama Frieska, adikku, mendapat telepon masuk begitu ponsel pintarku berdering. Tak lama setelah itu, aku mengangkat telepon dan tertulis caller ID Qayyum. “Halo.”

“Melody, besok jam berapa kamu masuk kuliah?” tanya Qayyum dari seberang sana.

“Jam 8 pagi,” jawabku.

“Besok ‘kan hari Jumat, terus kapan kamu selesai kuliah besok?”

“Jam 2 siang. Ada apa?” jawabku kemudian bertanya.

“Besok aku kuliah dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore. Oh ya, habis kuliah kamu mau nggak tunggu di lobi kampus sampai kelasku selesai besok?” ajak Qayyum.

“Buat apa?” aku balik bertanya kepada Qayyum.

“Buat ketemu aku, Mel,” jawabnya singkat.

“Bisa, Yum,” aku menerima ajakan dari Qayyum.

“Gimana pertandingan bola kamu? Menang nggak?” tanyaku.

“Menang 2-0, Mel. Aku cetak gol penalti pada akhir babak pertama. Aliando juga cetak gol untuk tim Universitas JKT48,” jawabnya sambil menyebutkan salah satu teman kuliahku.

“Sampai ketemu besok,” pesan Qayyum.

“Oke.” Kemudian aku mematikan telepon dari Qayyum.

***

QAYYUM POV

Hari ini hari Jumat. Aku pergi ke kampus seperti biasa dengan mengendarai mobil berwarna hitam. Hari ini aku terlihat segar dengan memakai kemeja lengan panjang berwarna biru tua dengan motif kotak-kotak dan celana panjang jeans berwarna biru tua. Setelah memarkir mobilku di parkir kampus, aku pun berjalan menuju ruang kuliah yang terletak di gedung Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Namun aku melihat sebuah pengumuman yang ditempelkan di pintu ruang kuliah yang tertutup rapat.

PENGUMUMAN

DIKARENAKAN DOSEN SAKIT, MAKA KULIAH UNTUK HARI INI DILIBURKAN

Yah, hari ini aku nggak kuliah, kataku dalam hati kecewa. Bukan hanya aku saja yang berdiri di depan pintu ruang kuliah tapi juga teman kuliahku yang satu jurusan denganku.

“Qayyum, aku jadi malas pergi kalau nggak ada kuliah,” keluh Naomi yang berdiri di dekatku.

“Iya, Nom. Aku jadi bete kalau hari ini kuliah diliburkan secara mendadak,” keluhku.

“Daripada bete, mending kita selfie bareng di taman,” Yona, teman kuliahku yang lainnya, menemukan ide setelah kelas diliburkan karena dosen sakit.

“Bisa, Na,” Naomi menyetujui ide dari Yona. Kemudian aku bersama teman-teman kuliahku pergi ke taman kampus untuk melakukan selfie bareng. Ada delapan orang yang mengikuti “rombongan” yang digagas Yona yaitu; aku, Yona, Naomi, Hanna, Gaby, Lidya, Tio, dan Cesar. Untuk itu, Yona sudah menyiapkan ponsel pintarnya dan juga tongsis yang sudah dikeluarkan dari tasnya. Lalu, Yona memasang ponsel pintarnya di kepala tongsis dan kita selfie bareng. Jepret!

Setelah itu, aku bersama teman-temanku melihat foto hasil jepretan tadi di ponsel pintar milik Yona.

“Yona, jangan lupa tag aku di Facebook dan Instagram,” pesanku kepada Yona.

“Aku juga,” Naomi, Hanna, Gaby, Lidya, Tio, dan Cesar tampak kompak dengan melakukan permintaan yang sama denganku.

“Oke, nanti aku tag kamu semua di Facebook dan Instagram,” Yona menyetujui permintaan dariku dan juga teman-temanku.

“Terima kasih, Na,” aku bersama teman-temanku berterima kasih kepada Yona.

Setelah selfie bareng teman-temanku di taman kampus, aku melakukan kegiatan lain dengan browsing internet di laptopku di lobi kampus untuk mengisi kekosongan setelah kelasku diliburkan. Selain itu, aku juga menulis sebuah pesan singkat kepada Melody di ponsel pintarku.

Mel, kelasku libur karena dosen sakit. Jam istirahat nanti, kita ketemuan di lobi kampus. Sekarang aku sudah di lobi kampus.

10 menit kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pintarku dan aku membuka pesan masuk itu.


Bersambung